Tampilkan postingan dengan label Krisis Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis Mesir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Februari 2011

Krisis Mesir

Rezim 30 Tahun Mubarak pun Tumbang
Hosni Mubarak akhirnya mundur setelah berkuasa selama 30 tahun di Mesir.
Sabtu, 12 Februari 2011, 01:18 WIB
Edwan Ruriansyah
VIVAnews - Di antara protes dan demonstrasi tak kunjung henti, Hosni Mubarak akhirnya mundur setelah berkuasa selama 30 tahun di Mesir.

Stabilitas keamanan selalu menjadi fokus Mobarak di era kepresidenannya. Ia memberlakukan Undang-undang Darurat yang melarang pertemuan lebih dari 5 orang. Dan itu sukses dijalankan selama 30 tahun di negara berpenduduk terbesar di Timur Tengah itu.

Tapi pada Januari 2011, diinspirasi oleh revolusi di Tunisia, Mesir dilanda protes dan demonstrasi besar-besaran. Demonstran yang berpusat di Lapangan Tahrir mulai muak dengan menurunnya kemakmuran, korupsi, pengangguran serta
autokritik pemerintah.

Dalam siaran di televisi, 1 Februari lalu, Mubarak mengumumkan takkan mencalonkan diri lagi pada pemilu September.  Tapi, demonstran sudah tak sabar menunggu mundurnya pemimpin terlama di Arab itu. Dan akhirnya, Mubarak menyerah pada Jumat malam waktu setempat, 11 Februari 2011.

Karena Israel

Muhammad Hosni Sayyid Mubarak lahir pada 4 Mei 1928 di sebuah desa kecil di Delta Sungai Nil. Meski berasal dari latar belakang miskin, ia mampu lulus dari Akademi Militer Mesir pada 1949. Ia bertugas di Angkatan Udara sejak 1950.

Nama Mubarak mulai melejit saat menjabat sebagai komandan AU dan Deputi Menteri Pertahanan Mesir sekaligus. Ia memimpin penyerangan ke pasukan Israel yang menginvasi semenanjung Sinai pada perang Yom Kippur 1973.

Sukses Mubarak melejitkannya ke posisi orang nomor 2 Mesir. Dua tahun setelah Perang itu, Presiden Sadat mengangkat Mubarak sebagai Wakil Presiden.

Mubarak naik menjadi Presiden ke-4 Mesir seusai terbunuhnya Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981. Saat itu, tak banyak pengamat yang memperkirakan Mubarak yang baru saja naik menjadi Wapres akan bertahan lama di kursi Presiden Mesir.

Sekutu AS

Meski kurang populer saat itu, Mubarak pintar mengolah isu pembunuhan Sadat untuk berdamai dengan Israel. Itulah momen dimana ia mulai membangun reputasi di dunia internasional.

Sebelumnya, Mubarak memang terlibat dalam perjanjian damai Camp David dengan Israel yang ditandangani oleh Presiden Sadat dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin pada 1979.

Mubarak pun mulai dekat dengan Amerika Serikat. Diiringi bantuan Negeri Paman Sam senilai miliaran dolar AS kepada militer Mesir.

Mubarak dan Mesir juga selalu menjadi moderator bagi negara-negara Barat atas konflik Israel-Palestina. Sayangnya, posisi itu justru memperburuk citra Mubarak di kalangan fundamentalis Muslim. Ia menjadi target pembunuhan.

Mubarak tercatat enam kali lolos dari percobaan pembunuhan. Kali terakhir terjadi pada 1995 saat mobil limousin yang ditumpanginya diserang di Ibukota Ethiopia, Addis Ababa. Saat itu, ia akan menghadiri Konferensi Afrika.

Beberapa insiden itu memaksa Mubarak memenjarakan beberapa lawan politiknya. Intelijen Mesir pun menjadi sangat rajin membersihkan semua musuh Mubarak.
Diktator
Usaha Mubarak mengendalikan stabilitas negara bukan hanya menjadikan dirinya diktator. Ia juga memonopoli sektor ekonomi Mesir.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai merasakan tekanan demokrasi. Baik dari dalam negeri maupun dari AS. Setelah protes dan demonstrasi dalam beberapa pekan terakhir, tekanan itu tak tertahan.

Dukungan dari militer semakin berkurang. Beberapa komandan militer pun pilih meninggalkan posisinya. Sejak 10 Februari lalu, kabar bahwa Mubarak akan segera lengser menyebar ke seantero Mesir dan dunia.

Di siaran televisi, Mubarak yang frustrasi sempat berpidato akan mempertahankan kursinya sampai Pemilu September. Tapi, kurang dari 24 jam berikutnya, Mubarak meninggalkan Kairo bersama keluarganya.

Wakil Presiden Omar Suleiman berpidato di televisi bahwa Sang Presiden resmi mundur. Kabar ini menjadi kegembiraan warga yang merayakannya di seluruh jalanan Kairo, Alexandria dan beberapa kota besar Mesir lainnya.
read more...

Krisis Mesir

Mubarak Mundur, Harga Minyak Turun
Sebelumnya, akibat krisis di Mesir, harga bensin di Amerika mencapai harga tertinggi.
Sabtu, 12 Februari 2011, 02:40 WIB
Antique, Denny Armandhanu
VIVAnews - Menyusul turunnya Hosni Mubarak sebagai Presiden Mesir harga minyak dunia turun hingga ke titik terendah setelah sebelumnya mencapai angka tertinggi akibat merebaknya kekerasan di negara Seribu Menara itu.

Harga minyak mentah di bursa New York Mercantile Exchange pada perdagangan siang (waktu setempat) seperti dilansir dari laman ABC News, Jumat, 11 Februari 2011, turun US$1,21 menjadi US$85,52 untuk distribusi bulan Maret. Di Bursa Nymex untuk distribusi Maret, minyak  turun dua sen menjadi US$2,6950 per galonnya dan bensin turun satu sen menjadi US$2,4610 per galonnya.

Di bursa London, harga minyak mentah turun 31 sen menjadi US$101,13 pada bursa dagang ICE Future Exchange. Sementara itu, untuk gas alam, turun enam sen menjadi US$3,930 per 1.000 kubiknya.

Sebelumnya, akibat krisis politik di Mesir, harga bensin di Amerika Serikat mencapai harga tertinggi dalam setahun. Hal ini pernah terjadi tiga tahun yang lalu saat harga minyak mencapai US$4 per galonnya, membuat warga mengganti mobilnya ke mobil yang lebih irit bensin.

Kenaikan harga minyak yang terjadi pada tahun ini disebabkan beberapa hal, seperti naiknya permintaan minyak oleh China, musim dingin yang parah, dan ketegangan di Mesir.
read more...

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
anto1669
welcome and congratulations to explore my blog and get experience, you need ... God bless you
Lihat profil lengkapku