Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

Renungan harian

Semangat Persahabatan Baca: 2 Samuel 17:27-29
Ayat Mas: Amsal 17:17
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 8-10; Matius 25:31-46

Maggie Hamilton, seorang murid Sekolah Dasar di Michigan, Amerika Serikat, menulis surat ini: “Hai, semoga keluarga dan teman-temanmu baik-baik saja. Di gereja, saya berdoa untukmu dan negaramu. Di sekolah, kami mengumpulkan dana untuk negaramu. Maka, kami membuat gelang tsunami. Saya membuat satu untukmu. Semoga kamu menyukainya. Saya akan terus berdoa untukmu dan negaramu di gereja.”
Dan, Nada Lutfiyyah, anak sebatang kara yang kehilangan orangtua, kakak, dan adiknya dalam peristiwa tsunami di Aceh, membalas surat itu, “Sahabatku, namaku Nada Lutfiyyah. Saya sangat senang dan terharu menerima suratmu. Saya kehilangan seluruh keluarga saya dan sekarang tinggal bersama sepupu saya. Saya senang atas perhatianmu. Semoga saya segera menerima gelang pemberianmu karena saya ingin mengenakannya di tangan ini untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa saya sekarang memiliki seorang sahabat.” Dua sahabat itu bertemu di Istana Negara pada perayaan HUT kemerdekaan Indonesia ke-63, atas undangan Presiden SBY.
Maggie dan Nada mengajarkan satu hal, bahwa persahabatan melewati batas-batas jarak, suku, status, warna kulit, dan agama. Kuncinya adalah ketulusan untuk saling memberi serta keterbukaan untuk saling menerima. Hal serupa kita baca dalam 2 Samuel 17:27-29. Daud tengah terlunta-lunta karena melarikan diri dari Absalom, anaknya yang memberontak. Saat pasukannya kelelahan, beberapa orang dari bangsa lain; Sobi bin Nahas, Makhir bin Amiel, dan Barzilai, mengulurkan tangan memberi bantuan. Alangkah baiknya jika kita pun memiliki semangat persahabatan seperti itu.
KETULUSAN DAN KETERBUKAAN ADALAH KUNCI PERSAHABATAN
read more...

Renungan harian

Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah.

Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri.

Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.

Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.

Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini… tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.

Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.

Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak
2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan
3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri. ..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.
read more...

Renungan harian

Murid, Bukan Suporter Bacaan hari ini: Lukas 14:25-35
Ayat mas hari ini: Lukas 14:33
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 40-42

Banyak orang yang “gila” sepak bola memutuskan untuk menjadi anggota fans club sebuah tim sepak bola. Biasanya mereka akan selalu menonton tatkala tim yang didukungnya berlaga, entah langsung pergi ke stadion ataupun melalui layar kaca. Yang menarik, biasanya mereka juga suka memakai atribut tim kebanggaannya tersebut; mulai dari kaos, selendang, sampai rela mengecat wajahnya dengan warna yang identik dengan tim kesayangannya. Mereka bisa berpesta tatkala timnya menang, juga sedih dan marah tatkala timnya kalah. Namun, itu hanya terjadi selama beberapa saat.
George Barna, seorang peneliti kristiani, menulis dalam bukunya Menumbuhkan Murid-Murid Sejati, bahwa banyak orang kristiani yang suka menjadi ”suporter” Kristus, tetapi tidak menjadi murid Kristus. Banyak orang tertarik pada kekristenan, tetapi tidak sungguh-sungguh berkomitmen kepada Kristus. Dalam bacaan hari ini, Yesus memberikan beberapa syarat untuk menjadi murid-Nya. Dan, jika kita tidak dapat memenuhi syarat tersebut, kita tidak layak menjadi murid-Nya. Memang syarat yang disampaikan Tuhan lebih banyak berupa kiasan dan tidak dapat diartikan secara harfiah. Namun, dari syarat-syarat tersebut kita mendapati bahwa Tuhan tidak ingin orang mengikut Dia hanya berdasarkan rasa tertarik. Orang itu harus berkomitmen dan mau membayar harga.
Orang kristiani seperti apakah kita? Suporter atau murid? Orang yang hanya senang memakai atribut kekristenan atau sungguh-sungguh memiliki komitmen dan berani membayar harga untuk mengikut Kristus? Apabila hanya sebatas suporter, kita tidak layak menjadi murid-Nya
read more...

Kamis, 13 Januari 2011

Renungan harian

Khawatir Bacaan hari ini: Matius 6:25-34
Ayat mas hari ini: Filipi 4:6
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 37-39

Jika saya adalah Abraham, saya pasti sudah khawatir—karena anak perjanjian dari Tuhan tak kunjung datang. Itu sebabnya, Abraham sampai memperistri Hagar. Jika saya adalah Yakub, saya pasti sudah khawatir—bagaimana jika kelak akan bertemu Esau, setelah hak kesulungannya dirampas. Itu sebabnya, ia sampai mempersiapkan persembahan ternak untuk membujuk Esau.
Khawatir itu suatu perasaan yang manusiawi. Akan tetapi, tidaklah baik apabila kita terus-menerus tenggelam di dalamnya. Saat kekhawatiran itu datang, setidaknya ada dua sikap yang cenderung kita ambil. Pertama, kita menyerah. Terlalu berfokus pada masalah, hingga masalah tersebut menjadi begitu besar dan menguasai diri, hingga membentuk keyakinan kita. Akibatnya, kita kehilangan sukacita dan semangat. Menjadi lumpuh dan tak berdaya. Kedua, kita memilih menempuh jalan pintas. Terlalu percaya diri, mengandalkan kekuatan sendiri. Nekat. Saat kehilangan akal sehat, tindakan didasarkan pada emosi sesaat. Keduanya tidaklah membangun.
Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap apabila kekhawatiran itu melanda? Redamlah kekhawatiran itu, dengan mengisi hati dan pikiran kita dengan pengharapan. Lalu, berserah dan berharap kepada Tuhan saja. Berserah dengan keyakinan bahwa bunga di padang pun Dia hiasi (ayat 28-30). Sambil tetap berharap dengan keyakinan di dalam doa.
Jadi, saat Anda khawatir, janganlah putus berharap. Jalani hari ini dengan ringan bersama Tuhan. Serahkan rencana hari esok di tangan-Nya. Percayalah, Dia Mahakuasa menopang kita
read more...

Rabu, 12 Januari 2011

Renungan harian

Berani Hidup Bacaan hari ini: Filipi 1:12-26
Ayat mas hari ini: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 34-36

Dalam pertandingan atau peperangan, kerap ada sebutan “pasukan berani mati”. Mereka punya semangat tinggi dan siap mempertaruhkan segala milik mereka, bahkan sampai mati, demi memperoleh apa yang mereka perjuangkan. Semangat berani mati bisa mendorong seseorang untuk sungguh-sungguh berjuang. Namun, semangat “berani mati” juga terkadang disalahgunakan orang yang ditekan persoalan hidup. Berani mati karena ia sudah menyerah. Lalu mengakhiri hidup dan berpikir kematian adalah jalan keluar terbaik untuk bebas dari masalah
Dalam bacaan hari ini, kita membaca bahwa Paulus adalah orang yang berani mati. Ia menghadapi segala tantangan berat dalam upaya memberitakan Injil. Namun, ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan: Jika ia masih hidup, itu dihayatinya sebagai “hidup untuk Kristus”—bukan untuk diri sendiri. Dan jika ia mati, ia menyebutnya “keuntungan”. Maka, ia berserah apakah Tuhan hendak memintanya mati atau hidup. Namun selama masih hidup, ia hidup dengan keberanian bersama Tuhan yang ia layani. Ia berani mati, tetapi ia juga berani hidup!
Dalam hidup ini, pernahkah Anda berhadapan dengan keraguan untuk melangkah? Kita diingatkan untuk memiliki semangat “berani mati” bagi Tuhan, yang berarti mau terus maju untuk melakukan segala sesuatu—dalam situasi sesulit apa pun—demi menaati firman-Nya. Bukankah semangat ini juga yang dimiliki oleh para martir? Akan tetapi, kita juga dipanggil untuk memiliki semangat “berani hidup”. Tidak memilih untuk melarikan diri atau mengelak saat persoalan menghadang, tetapi berani menghadapi dan menyelesaikannya bersama Dia yang memberi kita kekuatan.
read more...

Jumat, 07 Januari 2011

Renungan harian

Lebih Murah Bacaan hari ini: Keluaran 15:22-27
Ayat mas hari ini: Keluaran 15:24
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 19-21

Suatu pagi, saya memesan tiket pesawat pada teman beberapa hari menjelang Lebaran. Ia mendapatkan tiket yang relatif murah pada musim mudik, dan berjanji akan segera mengirimkannya. Saya tunggu-tunggu, tiket tidak kunjung datang juga hingga sehari menjelang keberangkatan. Dengan agak jengkel, saya meneleponnya. Ternyata ia sedang mencari tiket yang lebih murah lagi—dan, ya, ia memang berhasil mendapatkannya! “Makanya, jangan menggerutu dulu,” kata hati saya.
Pengalaman itu menolong saya memahami tingkah bangsa Israel. Tiga hari berjalan di padang gurun tanpa mendapatkan air, begitu mendapati air di Mara, ternyata airnya pahit. Jelas saja mereka menggerutu. Namun, sungut-sungut itu menunjukkan ketidakpercayaan mereka akan pemeliharaan Tuhan. Nyatanya, Tuhan mengulurkan bantuan ketika Musa berseru kepada-Nya.
Kemudian, mereka sampai di Elim. Tempat ini berlimpah air dan diteduhi pohon kurma. Menurut beberapa arkeolog, jarak dari Mara ke Elim itu sekitar 20 kilometer atau satu hari perjalanan. Dengan kata lain, seandainya saja bangsa Israel mau bersabar sehari lagi, mereka tidak perlu mengomel pada Tuhan. Sayang, tidak diceritakan apakah di Elim mereka bersorak-sorai dengan ucapan syukur.
Kadang-kadang kita juga melewati tempat seperti Mara: ketika kita merasa merasa terjepit oleh persoalan hidup dan Tuhan seakan tidak peduli, ternyata Dia sedang menyiapkan pertolongan yang tak terduga dan lebih baik dari yang kita harapkan. Karenanya, ketika keadaan memburuk, jangan biarkan sikap negatif menggerus kepercayaan kita kepada Tuhan
read more...

Rabu, 05 Januari 2011

Renungan harian

Renungan Online - Negative Thinking

Coba perhatikan perhitungan angka-angka di bawah ini :
3+4=7, 9+2=11, 8+4=13, 6+6=12.
Apa yang anda dapatkan dari perhitungan di atas ?
Setiap kali pertanyaan tersebut diajukan lebih dari 90% peserta akan segera mengatakan 8+4 tidak sama dengan 13 tetapi seharusnya 12 !
Jawaban tersebut benar, 8+4 seharusnya 12 bukan 13, tetapi apabila diperhatikan lebih jauh sebenarnya dari 4 perhitungan diatas, hanya 1 perhitungan yang salah sedangkan 3 perhitungan yang lain benar.
Pada umumnya kita memusatkan perhatian pada hal-hal yang negatif atau yang salah daripada memusatkan pada hal-hal yang positif atau benar. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dari kita yang lebih berfokus pada kesalahan atau kekurangan daripada kelebihan atau kebaikan orang lain.
Seperti halnya pada contoh perhitungan diatas, sebagian besar orang memperhatikan perhitungan yang salah. Apabila ada 10 orang yang tidak anda kenal lewat di depan anda, pada umumnya kita melihat orang tersebut dari sisi kekurangan mereka. Gemuk, botak, pendek, pesek.
Hal tersebut diatas juga dapat anda temukan di dunia kerja atau pendidikan. Rekan kerja anda mungkin telah menyelesaikan banyak proyek yang berhasil dan sekali waktu melakukan kesalahan yang menyebabkan suatu proyek gagal atau sewaktu anda sekolah dan pernah gagal di satu mata pelajaran kemungkinan besar teman-teman anda akan lebih mudah mengingat pada proyek atau mata pelajaran anda yang gagal tersebut walaupun itu hanya terjadi sekali.
Apakah anda mendapatkan makna dari ilustrasi di atas ? Apakah anda termasuk orang yang melihat orang lain dari sisi negatif daripada sisi positif ?
Anda mempunyai pilihan untuk menilai orang lain dari sisi negatif atau sisi positif, kenapa kita tidak memilih menilai orang lain dari sisi positif daripada sisi negatif.
Kumpulan Renungan Harian
read more...

Renungan harian

Renungan - Menemukan Tujuan Hidup dalam Kebosanan

Oleh: Henry Sujaya Lie
Suatu hari di pinggir jalan Orchard. Saya dan seorang sobat. Kami saling berbincang tentang irama kerja yang sangat cepat dan melelahkan di kota kosmopolitan modern, Singapura.
Letih.
Dan rasanya - paling tidak bagi saya - seperti kehilangan arah sesaat. Masing-masing bertanya dan bergumul. Pertanyaan-pertanyaan yang entah mungkin juga dipertanyakan ribuan, jutaan anak Tuhan. Anak-anak Tuhan yang bergumul di dunia kerja. Dunia "sekuler", istilahnya.
"Rasanya seperti belum melakukan apa-apa dan tidak mampu melakukan apa-apa," ujar sobat saya agak kecewa.
Ya, berapa banyak dari kita yang seringkali merasa kehilangan arah? Tenggelam dalam rutinitas dan kebosanan? Dan mulai bertanya-tanya, di sini sajakah panggilan Tuhan berakhir? Di tengah tumpukan kertas dan kerja?
Namun kisah Natal menceritakan tentang sebuah peristiwa yang menarik. Sebuah momen di padang yang sunyi dan gelap. Di situ sekelompok gembala melakukan rutinitas pekerjaan mereka yang membosankan. Di situ sekelompok gembala menghitung lembar-lembar rumput hari demi hari.
Setiap hari. Sepertinya tidak ada yang istimewa dalam hidup mereka. Mungkin mereka juga mulai bertanya-tanya apa tujuan hidup mereka di padang rumput tiap-tiap hari.
Tapi malam itu, di tengah rutinitas dan kesibukan keseharian mereka, ada sesuatu yang lain. Para malaikat tiba-tiba hadir menyatakan kemegahan dan kemuliaan Illahi. Sebuah paduan suara yang tentu jauh lebih dahsyat dari konser Messiah-nya Handell. Di sanalah di tengah hari-hari biasa mereka Allah menyatakan tujuan hidup mereka!
Sebuah peristiwa di padang yang sepi dan gelap....oh, bukan di Sinagoga yang ramai dikunjungi orang penting? Dan kepada para gembala yang tidak tahu sekolah Alkitab ...oh, bukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi?
Malaikat-malaikat itu cuma datang kepada orang biasa?
Ya, Lukas menuliskan demikian. Meninggalkan pesan buat kita, supaya nyata kalau Allah setia. Dia menyatakan tujuan dan panggilanNya pada saat kita setia padaNya dalam keseharian kita.
Alkitab tidak lelah bercerita tentang orang-orang yang menemukan tujuan dan panggilan mereka dalam kesetiaan mereka dalam keseharian mereka. Musa dipanggil Allah di saat yang tak pernah diduganya, pada saat dia menjadi gembala di padang Median. Yusuf menemukan tujuannya pada momen-momen yang sepertinya hopeless di penjara. Tapi dia tidak pernah putus menaruh harap padaNya. Ester dipakai Allah dalam suatu perkara besar yang mungkin tidak pernah dibayangkannya. Kapan? Dimulai dari saat dia menjadi 'beauty pageant' sampai dia menjadi ratu. Semua itu adalah dunia 'sekuler'. Tapi justru di dunia sekuler itulah Allah berteriak dan menyatakan panggilanNya.
Tantangan hamba Tuhan yang bekerja di dunia "sekuler" justru tidak mudah. Karena dunia punya aturannya sendiri. Dunia pembukuan mengenal "pembukuan ganda". Dunia pembelian mengenal komisi dan "uang pelicin". Dunia produksi mengenal "perbudakan terselubung". Dunia hukum mengenal KUHP atau "Kasih Uang Habis Perkara". Bagaimana hendak tegar menghadapi semua ini dan tetap mengikuti kehendak Tuhan? Bagaimana menantang aturan dunia dan mengkonfrontasikannya dengan aturan Allah? Ya, itulah pergumulan kebanyakan anak-anak Tuhan yang bekerja di dunia sekuler, yang secara statistik tentu lebih banyak jumlahnya daripada anak-anak Tuhan yang terjun full time.
Jadi kuncinya adalah mendengar dan taat kepada suara Allah yang memanggil kita, dimanapun kita ditempatkan. Dia yang menuntun kita, tahu jalan-jalan kita. Everything in life has a purpose and our purpose is constantly calling us out… Dan Allah bekerja mengorkestrakan segalaaaaaa kejadian yang terjadi dalam hidup kita…merangkainya….menenunnya menjadi sebuah masterpiece yang luar biasa indaaaaaah.
Pada saatnya kita akan melihatnya. Seperti rumput-rumput di padang. Rumput-rumput biasa yang hanya bergoyang oleh angin. Malam Natal itu mereka bersinar-sinar memantulkan kemuliaan megahnya bala tentara sorgawi.
Dia tahu dan mengendalikan waktu. Dia memanggil dan menempatkan kita sesuai waktu, hikmat dan rencanaNya. Bagian kita untuk setia dan terus menerus mendengar dan mencariNya di tumpukan kerja dan kertas.....
Sumber: email
Kumpulan Renungan Harian
read more...

Selasa, 04 Januari 2011

Renungan harian

Batas Bacaan hari ini: Yosua 15:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 119:59
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 10-12

Siapa yang tidak suka bermain? Sejak kecil kita akrab dengan kegiatan bermain. Permainan fisik, misalnya olahraga. Permainan otak yang mendidik. Atau, permainan yang membangun kebersamaan. Semua permainan memiliki aturan main. Ada batas-batas yang mengendalikannya. Lapangan badminton punya garis pembatas. Sepakbola punya batas waktu. Langkah-langkah tertentu membatasi permainan di papan catur. Permainan kelereng pun dibatasi cara bermain yang disepakati bersama. Melanggar batas berarti mengacau permainan, dan akan kena sanksi.
Kitab Yosua sampai pasal 13 mengisahkan bagaimana Israel—dipimpin Yosua—memasuki Kanaan. Bertempur di medan laga. Namun, memasuki pasal 14 dan seterusnya, suasana berubah. Mereka memasuki periode kehidupan yang lain. Tahap yang baru. Saatnya menata kehidupan bersama. Maka, Tuhan menuntun Yosua mengatur batas wilayah bagi masing-masing suku. Dari kehidupan mengembara di padang liar tanpa batas, mereka belajar hidup bersama dalam batas-batas yang harus dihormati di Tanah Perjanjian. Batas-batas itu kelak menentukan hak, warisan, dan pusaka masing-masing. Dan, agar tidak kacau, sejak semula batas-batas sudah ditegaskan dan ditegakkan.
Tuhan mencipta kita dengan banyak aspek hidup yang masing-masing juga ada batasnya. Kehidupan bersama akan berjalan baik hanya jika batas-batas itu disadari, dihormati, dipelihara. Makan ada batasnya. Berbicara ada batasnya, tak asal buka mulut. Bekerja mengenal batas kemampuan, waktu, peraturan. Pergaulan sehat dibatasi kesopanan dan tata susila. Hidup ini seperti sebuah permainan, semua harus bermain dalam batas-batas aturan mainnya.
read more...

Sabtu, 01 Januari 2011

Renungan harian

Beban atau Harapan? Bacaan hari ini: Keluaran 16:1-18
Ayat mas hari ini: Ratapan 3:22,23
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-3

Memasuki tahun baru, apa yang ada dipikiran Anda? Bersyukur? Atau, justru gentar menghadapi tantangan zaman yang kian berat? Ancaman global warming, bencana alam, krisis ekonomi maupun politik, terus-menerus melanda. Bagaimana kita sebagai anak Tuhan menyikapi pergumulan-pergumulan pada tahun yang baru ini?
Keluaran 16 bercerita tentang bangsa Israel yang bersungut-sungut karena kehabisan perbekalan setelah dua bulan berjalan di padang gurun (ayat 2). Mereka menuduh Musa dan Harun membawa mereka ke padang gurun hanya untuk membunuh mereka dengan kelaparan (ayat 3). Tuhan mendengar keluhan dan omelan mereka. Sejak itu, Dia mengirimkan manna untuk mereka setiap pagi—kecuali pada hari Sabat—selama 40 tahun (ayat 35).
Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari pengalaman bangsa Israel ini. Pertama, ketika masalah datang, janganlah kita bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Itu tiada guna, bahkan mendukakan hati Tuhan. Kedua, krisis yang terjadi di hidup manusia merupakan kesempatan bagi Tuhan untuk menunjukkan pemeliharaan-Nya. Manna turun setelah perbekalan orang Israel habis. Tuhan kerap kali mengizinkan krisis mengimpit kita supaya kita lebih menyadari kasih dan kuasa-Nya. Tuhan melakukan itu karena secara manusiawi, kita cenderung tidak mau berserah kepada-Nya sebelum benar-benar terpojok.
Setiap pagi ketika kita bangun tidur dan pikiran akan beban-beban yang ada di hadapan memasuki otak kita, ingatlah bahwa Tuhan memberikan hari yang baru untuk sekali lagi Dia menyatakan kasih kepada kita lewat segala yang Dia izinkan terjadi.


read more...

Selasa, 28 Desember 2010

Renungan : Natal

Ingat!


Kategori: Natal, Renungan

"Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: 'Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi'" (Matius 2:4-5)
Ada sebuah realitas ironis yang dikemukakan penulis Injil Matius dalam paparannya tentang masa kanak-kanak Yesus. Pihak yang paling dekat dengan Kitab Suci, tulisan sakral yang merekam wahyu ilahi tentang kelahiran sang Mesias, justru tidak menyambut dengan antusias berita Natal yang berkumandang di Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki Kitab Suci, para majus dari Timur, yang notabene adalah orang-orang kafir, justru tidak mau melewatkan kesempatan untuk meliput peristiwa yang cuma sekali di sepanjang sejarah tersebut!
Siapa lagi yang paling dekat dengan Kitab Suci pada zaman itu selain para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi? Pekerjaan mereka tidak lain adalah menggeluti Kitab Suci siang malam dan mengajarkan isinya kepada umat Allah. Jadi, pastilah mereka betul-betul tahu apa yang tertulis di dalamnya. Tidak seperti kebanyakan orang Kristen, yang memunyai Kitab Suci tapi tidak mengetahui sebagian besar isinya, karena memang jarang membacanya!
Buktinya, ketika Raja Herodes memanggil mereka dan menanyakan tempat kelahiran Sang Mesias menurut Kitab Suci, mereka sanggup memberikan jawaban yang akurat: "Di Betlehem, di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: ...." Lihat! Mereka betul-betul menguasai isi Kitab Suci! Termasuk bagian-bagian yang berbicara tentang kelahiran sang Mesias!
Karena itu, sungguh aneh jika para elit rohani ini tidak menyambut dengan antusias berita kelahiran sang Mesias yang dibawa para majus ke Yerusalem! Lebih aneh lagi jika mereka tidak melakukan upaya sedikit pun untuk meneliti kebenaran berita tersebut! Ada apa gerangan?
Kitab Suci tidak menjawabnya. Ia membuat dan membiarkan para pembacanya bertanya-tanya. Membuka kesempatan bagi seribu satu kemungkinan yang ada untuk muncul di benak mereka.
Mungkin raja para rohaniwan ini terlalu sombong untuk menerima kenyataan bahwa berita kelahiran sang Mesias ternyata disampaikan Allah melalui orang-orang kafir. Pikir mereka, "Bukankah kami yang selama ini memegang dan menekuni Kitab Suci serta mengajarkannya kepada umat Allah? Seharusnya lewat kamilah Allah berbicara tentang Natal, bukan lewat orang-orang yang tak bersunat itu. Ah, tidak mungkin berita yang mereka sampaikan itu benar-benar berasal dari Allah. Omong kosong! Kami tidak mau menanggapinya!"
Atau, mungkin saja para elit rohani itu merasa posisi mereka sebagai pemimpin umat bakalan terancam dengan lahirnya sang Mesias. Mereka takut, jangan-jangan sebentar lagi keberadaan mereka tidak sepenting sekarang. Jangan-jangan, tidak lama lagi tempat mereka di hati umat akan diambil alih oleh sang Mesias. Jangan-jangan ....
Karena itu, betapa senangnya mereka waktu Herodes memanggil mereka dan menanyakan tempat kelahiran sang Mesias menurut Kitab Suci. Serta-merta mereka memberitahukannya. "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi." Sambil berharap, semoga saja Herodes yang kebakaran jenggot dengan berita itu segera merencanakan pembunuhan terhadap bayi Yesus. Kalau bayi itu mati di tangannya, bukankah ancaman terhadap kedudukan mereka tersingkir seketika dan tangan mereka tetap bersih? Pintar sekali!
Atau, mungkin saja ... ah, masih banyak kemungkinan lainnya. Bukankah dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Kecuali sang Khalik!
Apa pun alasannya, yang pasti mereka inilah -- para imam kepala dan ahli Taurat -- yang pada kemudian hari muncul sebagai pihak yang memusuhi Mesias. Mereka berusaha mencari titik kelemahan-Nya, mencari-cari kesalahan-Nya, mengecam karya dan ucapan-Nya, menuduh-Nya yang bukan-bukan, berkomplot untuk menyingkirkan-Nya, memprovokasi massa untuk menentang-Nya, mendesak Pilatus sang penguasa untuk menyalibkan-Nya, mengolok-olok dan menghujat-Nya di bawah salib, dan pada akhirnya, setelah Kristus bangkit dari kematian, mengupahi para serdadu Pilatus untuk menyebarkan kabar bohong tentang pencurian mayat Yesus oleh para murid. Jelas sekali mereka tidak rela sang Mesias mengganggu-gugat posisi mereka sebagai pemimpin umat!
Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa yang namanya agama dan jabatan keagamaan tidak secara otomatis menjadikan pemiliknya pelaku firman dan kehendak Allah. Jika semangatnya egois, cuma mementingkan diri sendiri, atau hatinya sombong, menganggap dengan pengetahuan teologisnya ia bisa "mengurung" gerak Allah, pastilah agama dan jabatan keagamaan tidak akan membuatnya lebih dekat dengan Tuhan. Sebaliknya, semakin jauh, bahkan melawan Tuhan! Di tangannya, agama dan jabatan keagamaan bisa menjadi alat untuk mempertahankan posisinya dan menyingkirkan setiap lawannya! Kalau perlu, membungkam mulut Tuhan!
Ini peringatan yang penting bagi semua pengajar Kitab Suci -- pendeta, penginjil, penatua, dsb.. Termasuk saya. Jangan lupa diri! Ingat! Kita cuma hamba Tuhan! Tugas seorang hamba adalah mempersiapkan jalan bagi Tuhannya, lalu, ketika Tuhan datang, menyingkir secepatnya dari jalan itu, supaya semua orang memandang kemuliaan Tuhannya!
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli artikel : Eling!
Judul buku : Harta Karun Natal
Penulis : Erick Sudharma
Penerbit : Penerbit Mitra Pustaka


dan Literatur Perkantas,


Jawa Barat 2005
Halaman : 57 -- 62
read more...

Kamis, 16 Desember 2010

Renungan : Berkat Sebuah Ucap Syukur

Kolose 2:7
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 146; Wahyu 2; Zakharia 11-12

Sebelum tidur, saat kami mengantarkan anak kami yang paling kecil ke tempat tidur, dia memanjatkan sebuah doa yang sangat indah, padahal biasanya dia paling sulit untuk di suruh berdoa.

“Terima kasih Yesus,” dia memulai. “Untuk kakak saya, ibu saya, ayah saya, rumah saya, teman-teman saya… dan terutama untuk tempat tidur ku.”

Dia menyampaiak doa syukurnya atas banyak hal yang ia miliki malam itu selama 10 menit. Setelah ia selesai berdoa, kami menciumnya dan juga kakak laki-lakinya, lalu mengucapkan selamat malam kepada mereka.

Sekitar tiga menit kemudia, kami seperti mendengar mereka memanggil, jadi suami saya melongok ke kamar anak-anak. Namun semuanya baik-baik saja, bahkan yang mengejutkan anak laki-laki saya yang paling kecil telah tertidur dengan lelapnya.

Ketika saya merenungkan peristiwa itu, saya diingatkan pada Mazmur 55:22, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!” Anak saya memiliki iman yang begitu polos dan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dengan ucapan syukurnya, bahkan untuk hal-hal kecil, dan kini ia bisa tertidur dengan pulas dalam lingkupan kasih Bapa Sorgawi. Saya mengingat bahwa seringkali kita sebagai orang dewasa gagal untuk melakukan hal ini.

Jangan ijinkan ketakutan, kekuatiran dan juga keegoisan mencuri berkat Tuhan. Curahkanlah isi hati Anda kepada Tuhan dengan ucapan syukur, dan nikmatilah istirahat dalam pengayoman Bapa Sorgawi. Percayalah bahwa Tuhan tahu yang Anda butuhkan dan Dia pasti memelihara kehidupan Anda.(Mariel Davenport)

Jangan ijinkan kekuatiran mencuri berkat Allah, sebaliknya sampaikan segala keinginan Anda dalam doa dengan ucapan syukur.

read more...

Renungan : Semua Karena Tuhan

Mazmur 94:17-18
Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi. Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4; Wahyu 10; Ezra 7-8

Terry M. Crist menuliskan seperti ini dalam bukunya “Dibangunkan Terhadap Takdir” : Jauh sebelum internet menjadi trend di akhir abad ke dua puluh, dan jauh sebelum satelit menjadi tehnologi yang menghubungkan seluruh dunia melalui sebuah tehnologi, telephone menjadi standar komunikasi, lokal, nasional dan global. Ketika Samuel Morris menemukan telephone, ia mengakui bahwa ia hanyalah alat Allah. Perkataan pertama yang muncul saat penemuan itu terjadi adalah, “Lihat apa yang telah Allah lakukan.”

Menyadari bahwa diri kita hanyalah alat Tuhan adalah sebuah pengakuan pada kedaulatan Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita melupakan hal ini, maka kemanusiaan kita yang mengambil alih kehidupan. Pada saat itulah manusia merasa terpojok dan ditinggalkan oleh Tuhan, pada hal kita yang mengambil alih kendali Tuhan dalam hidup kita.

Kita adalah rekan sekerja Allah, namun tanpa kerendahan hati untuk mengakui bahwa Dialah yang berdaulat atas hidup kita, maka kita tidak bisa bekerja sama dengan-Nya. Kita mengabaikan Dia dengan kesombongan kita.

Hari ini, mari kita merendahkan hati di hadapan Tuhan dengan mengakui bahwa Dia yang berdaulat atas hidup kita. Bahkan Tuhan berdaulat atas hidup kita bukan hanya di hari ini, namun juga atas masa depan kita. Percayalah bahwa dengan mempercayakan hidup kita kepada-Nya, maka kita akan melakukan perkara-perkara besar bersama-Nya.

Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku ~ Tuhan Semesta Alam
read more...

Minggu, 05 Desember 2010

BERSEPEDA BERSAMA YESUS

Bersepeda Bersama Yesus

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati.

Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda. Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama.

Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!” Kadang Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya.

Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, “AKU TAKUT !” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku. Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan… orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan… perjalananku bersama Tuhanku.

Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami. Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh… menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus. Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata… “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”

read more...

Sabtu, 04 Desember 2010

Hidupmu Berharga

Hidupmu Berharga

Syallom.......
Bagaimana mungkin kursi goyang yang harganya $3,000 bisa laku $453,000.
Sebuah mobil bekas yang ditaksir bernilai $18,000 laku dilelang seharga $79,500. Gelas biasa yang ditaksir bernilai $500 ternyata bisa laku seharga $38,000.
Sebuah kalung yang bernilai $700 bisa laku $211,500 atau mengalami peningkatan 302.000% dari harga normal!
Sudah bayar sedemikian mahal, mereka masih mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
Gila, bukan? Tetapi semua kegilaan itu bisa dimaklumi karena barang-barang yang dilelang tersebut adalah milik Jacqueline Kennedy Onassis.
Yang membuat barang-barang tersebut laku mahal tentu saja bukan karena barang itu sendiri, tetapi karena siapa yang memilikinya.
Bagaimana dengan hidup kita? Sama seperti barang-barang lelangan tersebut, hidup kita sungguh berharga. Yang membuat kita berharga karena Dia yang memiliki kita, kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.
Ada dua kebenaran yang bisa kita petik melalui renungan hari ini. Pertama, jangan pernah sombong sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi karena Tuhan.
Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan Yesus. Dia bersedia membayar dengan darah yang mahal hanya untuk menyelamatkan kita. Kita begitu berharga dan bernilai. Jangan pernah memiliki cara pandang yang miskin tentang diri kita sendiri.
Miliki rasa percaya diri, bukan karena diri kita, tetapi karena Tuhan Yesus yang memiliki kita. Hidup kita berharga bukan karena diri kita sendiri tapi karena Dia yang memiliki kita.


"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus... bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal..." (1 Petrus 1 : 18 - 19)

Tuhan Yesus Memberkati.

Bandar Lampung, 11 Desember 2009
Daniel, BPK PENABUR Bandar Lampung
read more...

Menyerahkan yang Paling Berharga

Seorang muda bertanya kepada Yesus, bagaimana caranya ia dapat memiliki hidup kekal. Yesus menyarankan agar ia melakukan seluruh perintah Allah. Namun, si pemuda mengaku telah terbiasa melakukannya sejak lama. Jadi, ia bertanya lagi, "Apa lagi, Yesus?" Tanpa bermaksud memojokkan, Yesus menjawab, "Satu hal lagi yang harus kaulakukan: Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin ..., kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku." Eh, bukannya senang pertanyaannya dijawab, si pemuda malah berubah menjadi amat sedih. Mengapa? Sebab ia tak rela kehilangan hartanya yang begitu banyak! Itu sebabnya Yesus berkomentar, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah" (sebuah petikan kisah di Lukas 18:18-27).
Sebenarnya, aku cukup memahami apa yang dirasakan pemuda kaya ini. Ia tipikal anak muda yang sukses. Ia tak kekurangan. Hidupnya sudah ayem. Cukup kondusif hingga kemungkinan besar kondisi nyaman itu juga membantunya untuk menaati perintah-perintah Allah yang telah sejak lama diajarkan kepadanya -- barangkali dari orang tua, juga para pendidiknya. Dalam kondisi demikian itulah, sebenarnya ia ingin melayani dengan lebih baik lagi. Tentu saja dengan tetap menjadi orang kaya seperti saat itu. "Yah, kalau pelayanan butuh uang, kontak saja aku. Akan kutransfer, ok?" Begitu kira-kira.
Jadi, jawaban Yesus tentu mengejutkan dirinya. Bagaimana tidak? Mungkin dalam hati ia berolah pikir, "Kesuksesan yang sudah aku bangun susah payah, dengan keringat dan air mata selama belasan hingga puluhan tahun, masa mesti aku 'buang'? Masakan status dan gengsi sebagai orang terpandang yang telah melekat dalam diriku, mesti dilepas begitu saja hingga masyarakat menerimaku sebagai orang biasa? Bukan, bukan itu maksudku! Biarkan aku tetap kaya, sukses, dan terhormat seperti ini, dan aku akan bantu pekerjaan Tuhan." Bagi sang pemuda, kesuksesan, kedudukan, dan kekayaan yang sedang ia nikmati saat ini adalah hal-hal yang sangat penting baginya. Namun, justru itulah yang Tuhan minta. Sanggupkah ia melepaskan dan menyerahkannya?
Sekarang, izinkan aku melompat kembali ke zaman Perjanjian Lama. Aku ingat pada Bapa Abraham. Tentu kita tak ragu betapa besar ketaatan dan cintanya kepada Allah. Namun, saat Ishak, darah daging yang puluhan tahun telah dinanti, hadir dalam hidupnya, mau tak mau kasih Abraham banyak tercurah untuknya. Ishak pun merebut sebanyak mungkin perhatian dan kasih Abraham. Di antara hartanya yang berlimpah-limpah, hanya Ishaklah hartanya yang terutama. Yang paling ia kasihi. Yang ia prioritas dan utamakan. Lalu, di tengah cinta yang membara itu, apa yang Allah sabdakan? "Abraham, persembahkanlah Ishak sebagai korban bakaran kepada-Ku ..." (Kejadian 22:1-19). Allah tidak meminta seribu domba atau seribu unta ternak miliknya, tetapi Allah minta yang terbaik, yang paling dikasihi Abraham: Ishak!
Pada hari Natal ini, aku mencoba berefleksi pada dua peristiwa di atas. Ya, acap kali kita sebagai manusia memiliki keasyikan sendiri dengan berkat yang Allah taruh di hati kita. Berkat itu begitu indah dan menyenangkan sehingga tiap-tiap hari perhatian kita tercurah padanya. Itu sebabnya, kita bisa terkejut setengah mati bila Allah tiba-tiba meminta kita menyerahkan apa yang selama ini kita anggap paling berharga!
Apa yang Allah lakukan pada dua kisah di atas sesungguhnya mengingatkan pada kenyataan bahwa hanya Allah yang kita butuhkan dalam hidup ini! Dengan begitu, meski kadang berkat-berkat itu tidak ada, kita akan tetap hidup, sebab Allah saja sudah cukup! Ya, bukankah bencana alam dapat menyeret habis segala kekayaan kita dalam sekejap? Bukankah kematian juga dapat merenggut dan memisahkan kita dari orang-orang terkasih? Jadi, Allah harus selalu ada di atas segala berkat itu, sebab dari Dialah segala berkat itu berasal!
Natal adalah peristiwa yang menandai saat Allah juga telah memberikan yang terbaik, Seseorang yang dikasihi-Nya, semata untuk kita! Siapakah yang paling Allah kasihi? Anak-Nya sendiri! Dia sudah menyerahkan segala-galanya untuk kita -- Bayi yang lahir di kandang itulah milik Allah yang paling berharga. Ya, Allah sangat mencintai kita. Dia tahu kita sangat butuh Yesus untuk menebus dosa kita. Itu sebabnya, bahkan sebelum kita mengemis-ngemis memohon Allah turun pun, Allah sudah memberikannya bagi kita!
Jika Dia sudah lebih dulu menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa bagi kita, bagaimana kita dapat menunjukkan betapa kita mencintai-Nya?
Yesus, ajar kami untuk menyediakan tempat terbaik di hati dan hidup ini untuk-Mu. Terima kasih atas kelahiran Yesus -- yang terbaik dari-Mu telah Kau kirimkan bagi kami. Ajari kami untuk mencintai-Mu di atas segalanya!
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku : My Favourite Christmas
Penulis : Agustina Wijayani
Penerbit : Gloria Cyber Ministries
Halaman : 180 -- 184
read more...

Rabu, 01 Desember 2010

Renungan Kasih IBU


KASIH IBU
Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel … Ia mencintai pohon apel iu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu berlalu …….
Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. “Ayo bermain dengan saya,” pinta pohon apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak ‘bermain di sekitar pohon lagi. “Anak itu menjawab,” Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya. “” Maaf, tapi saya tidak punya uang ….. tapi Anda bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang. “Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu sedih.
Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. “Ayo bermain-main dengan saya” kata pohon apel. Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda membantu saya? “Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu.” Lalu, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali sejak saat itu.
Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. “Ayo bermain-main dengan saya!” kata pohon. “Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?” … “Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia.” Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.
Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. “Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada lagi apel untuk ananda. …” kata pohon “….. ” Saya tidak punya gigi untuk menggigit “jawab anak itu.” ” Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat” . “Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata anak itu.” “Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ….. satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat” kata pohon apel dengan air mata. “Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun.” Anak itu menjawab. “Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat di situ.” “Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat” Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.
Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah … Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka … hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita

read more...

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
anto1669
welcome and congratulations to explore my blog and get experience, you need ... God bless you
Lihat profil lengkapku